Equity Research Bank Rakyat Indonesia (BBRI)

November 2022

Ringkasan

Berdasarkan riset ekuitas pada saham Bank Rakyat Indonesia maka peneliti memiliki rekomendasi untuk hold saham BRI karena berdasarkan analisis strategi double cross menunjukan dua garis saling menyilang pada Stochastic dan MACD sehingga saham BRI masih akan terus mengalami kenaikan dengan target mencapai perubahan 9% dihitung dari harga terakhir yang paling rendah sesuai dengan rata-rata kenaikan updtrend pada saham BRI. Sehingga untuk jangka pendek maka disarankan hold saham BRI meskipun dengan kehati-hatian dikarenakan Stochastic sudah melewati batas 50 ke atas. Sedangkan untuk jangka panjang, dapat diketahui bahwa fundamental saham BRI sangat bagus
dengan nilai rasio keuangan yang optimal dan rendahnya eksposur risiko yang dihadapi atau very low risk sehingga tidak akan terancam gagal. Selain itu, Bank BRI memiliki keunggulan industri perbankan yang baik dibandingkan bank lainya serta inovasi pembiayaan hijau yang masif. Meskipun terdapat alert dari perekonomian global yang terus terjadi fragmentasi geopolitik serta kenaikan inflasi yang memicu pengetatan moneter oleh para gubernur bank sentral.

Profil Perusahaan

Raden Aria Wiriatmaja pada tanggal 16 Desember 1895, mendirikan De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden, sebuah badan pengelola dana masjid di Purwokerto yang bertugas mengelola dan menyalurkan dana kepada masyarakat dengan skema yang sederhana. Lembaga ini sempat mengalami beberapa kali perubahan namaa
dimana pada tanggal 22 Februari 1946, Pemerintah Indonesia melalui Peraturan
Pemerintah No. 1 tahun 1946, mengubah nama Syomin Ginko (yang sebelumnya telah berubah nama beberapa kali dari nama awal) menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai bank pemerintah yang menjadi ujung tombak dalam mendukung pembangunan perekonomian. Sesuai Undang-Undang No. 21 Tahun 1968, Pemerintah kembali menetapkan nama Bank Rakyat Indonesia dengan status sebagai bank umum. BRI berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman Kaveleri 44-46, Jakarta dengan majority shareholder sebesar 56,51% dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Emiten : BBRI Employee : 79,079
Sektor : Layanan Jasa Keuangan Top Intitutional : Boston Common Asset
Industri : Perbankan Holder
Last Price : 5.075 Top Mutual Fund : Vanguard Int Stock
Market Cap : 766 T Holder

Analisis Makro Ekonomi

Analisis Makroekonomi Internasional

Perang merupakan kejatahan luar biasa yang dapat menghilangkan nyawa manusia. Namun perang tidak sebatas pada hilangnya nyawa seorang manusia akan tetapi juga memiliki pengaruh negatif terhadap sektor perekonomian seperti halnya perang Rusia di Ukraina. Perang yang dimulai sejak Februari 2022 ini telah merusak perekonomian
global, diantaranya yaitu sebagai berikut.

  1. Terganggunya Pasokan Energi

Menurut IEA, Rusia telah memotong aliran gas ke Uni Eropa sekitar 80% antara Mei dan Oktober 2022, yang menyebabkan blok tersebut mengalami kekurangan energi yang signifikan sekaligus menyebabkan kebutuhan mendesak untuk menemukan alternatif energi dari tempat lain. Terganggunya pasokan energi tersebut menyebabkan peningkatan terhadap permintaan energi sehingga harga energi mengalami kenaikan yang tajam.

2. Selain gas, harga minyak dunia juga telah meningkat pesat yang ditunjukan dengan grafik dibawah ini. Dimana kenaikan harga minyak mentah dunia Brent sebesar 23% dan WTI sebesar 19% sejak Januari 2021 sampai Desember 2022 yang dipicu perang Rusia yang menyebabkan kepanikan energy dan terjadinya pasokan yang kurang atas tingginya angka perminataan minyak.

3. Terjadinya Krisis Biaya Hidup (Living Cost Crisis)

Perang menyebabkan suatu perubahan yang berdampak langsung terhadap
masyarakat dunia, terhadap tagihan mereka, yaitu kenaikan harga energi. Berdasarkan WEF bahwa IEA menyatakan biaya bahan bakar yang tinggi menyumbang 90% dari kenaikan biaya rata-rata untuk pembangkit listrik di seluruh dunia. Ditambah dengan
dampak pandemi global, krisis energi membuat 70 juta orang yang baru mendapatkan akses listrik tidak mampu lagi membelinya. Dan 100 juta orang mungkin tidak lagi dapat membuat makanan dengan bahan bakar bersih, malah kembali ke biomassa. Tingginya tagihan energi yang menyebabkan krisis biaya hidup semakin parah dengan kenaikan harga barang dan jasa lainya. Sehingga harga energi semakin mendorong angka inflasi ke arah yang lebih tinggi.

4. Tingginya angka inflasi telah terjadi terhadap berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Akan tetapi, yang terparah telah menimpa sebagian negara-negara Barat atas ketergantungan mereka pada minyak Rusia sebelumnya.

5. Tightening Policy yang Agresif oleh the Fedeal Reserve Bank of USA

Kenaikan suku bunga Fed telah mencapai perubahan sebesar 1.8% hanya pada tahun Agustus 2022 saja. Dan angka ini semakin tinggi ketika terjadi pada tahun 2023 dimana Fed telah menaikan suku bunga sampai ke angka 5%. Pengetatan moneter yang dilakukan oleh the Fed ini telah berdampak buruk terhadap kondisi keuangan Amerika sendiri serta
menjatuhkan pasar saham negara berkembang seperti Indoneisa. Bahkan keagresifan Fed memerangi inflasi telah memakan korban seperti bangkrutnya Silicon Valley Bank yang terpengaruh akibat terlalu banyak membeli obligasi jangka panjang.

6. Sehingga kenaikan inflasi dan suku bunga akan memperlambat pertumbuhan ekonomi bahkan dapat memicu resesi serta berdampak ke pasar saham negara berkembang, seperti saham Bank BRI yang salah satu market leader LQ45 dan dimiliki banyak oleh investor asing sehingga sentiment luar sangat sensitif bagi saham BRI.

7. Outlook ekonomi 2023 yang suram

Parahnya dampak perang Rusia terhadap dunia pada tahun 2022 kemungkinan akan terus berlangsung pada tahun 2023 ketika perang belum berhenti. Ketidakpastian kondisi geopolitik ini telah menyebabkan dampak negatif langsung terhadap ketidakpastian perekonomian global, baik dari sektor energi hingga keuangan. Gangguan pasokan energi yang masih berlangsung, kenaikan biaya hidup, inflasi, pertumbuhan ekonomi yang menurun sampai pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral telah menyebabkan
sentimen negatif terhadap prospek ekonomi tahun 2023. Sehingga ekonomi global yang kurang baik tersebut patut dijadikan sebagai bahan pertimbangan investor dalam memiliki berbagai saham Indonesia yang juga dimiliki oleh investor asing karena realisasi dalam
prospek negatif tersebut di atas maka saham di tanah air seperti BBRI dapat terguncang.

Makroekonomi Domestik

Suku bunga merupakan instrument bank sentral untuk mengendalikan tingkat inflasi suatu negara yang akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebabkan oleh perilaku perbankan sebagai lembaga intermediasi keuangan kepada masyarakat akan menyesuaikan tingkat bunga pinjaman/ deposit nya terhadap suku bunga bank sentral sehingga berdampak terhadap jumlah kredit masyarakat serta mempengaruhi perputaran bisnis mereka. Perang yang dilakukan oleh Rusia telah memiliki dampak negatif terhadap perekonomian global, dimana gangguan pasokan energi menyebabkan krisis biaya hidup serta inflasi. Untuk memerangi inflasi yang tajam maka berbagai bank sentral utama dunia telah melakukan kenaikan suku bunga yang agresif atau menggunakan kebijakan pengetatan moneter (tightening policy). Hal ini dilakukan untuk menurunkan tingkat inflasi serta tidak menjadi suatu kondisi kenaikan harga yang berlarut-larut terlalu lama.

Akan tetapi, kenaikan suku bunga secara terus menerus tentu memiliki konsekuensi negatif terhadap perekonomian, terutama ketika pertumbungan ekonomi sedang berjuang bangkit pasca pandemi. Sehingga kenaikan suku bunga yang tajam dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat bahkan dapat terjadi suatu resesi ekonomi. Dapat dilihat bahwa pada grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia bahwa Indonesia mengalami pertumbuhan yang baik akan tetapi pertumbuhan stagnan di angka 5% dimana hal ini kemungkinan dapat berhubungan dengan tingkat suku bunga yang relative stagnan sebelum kuartal keempat di angka 3.5%.

Ketika BI menaikan suku bunga sebesar 150 basis poin sejak agustus 2022 untuk
memerangi inflasi maka pertumbuhan ekonomi dapat berpotensi melambat memasuki kuartal keempat dan tahun depan. Maka alangkah baiknya jika pembuat kebijakan moneter mengurangi kenaikan suku bunga supaya tidak mengganggu pemulihan ekonomi meskipun secara fundamental Indonesia lebih bertahan daripada ekonomi global. Akan tetapi, akan sedikit terdapat gejolak harga pada saham saham IHSG karena hal ini dipengaruhi situasi luar negeri seperti kenaikan suku bunga the Fed yang sangat tinggi yang dapat menyebabkan resesi lebih cepat di Amerika dan mempengaruhi arus modal keluar dan pelemahan Rupiah bagi Indonesia. Hal ini tentu kurang baik bagi iklim investasi Indonesia baik dari segi investasi pasar modal maupun investasi secara langsung.


Analisa Industri Bank Rakyat Indonesia terhadap Industri Perbankan

Untuk mengetahui kinerja BRI dalam industri perbankan maka akan dilakukan
perbandingan kinerja antara BRI dengan semua industri perbankan sebagai berikut.

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa Bank Rakyat Indonesia memiliki posisi kinerja yang lebih baik dan unggul dibandingkan rata-rata keseluruhan industri perbankan di Indonesia dalam beberapa kinerja nya yang tercantum dalam tabel. Dimana hasil tabel tersebut menunjukan bahwa BRI memiliki aset dan kredit yang lebih besar dari industri perbankan yang artinya bahwa BRI memiliki market share yang besar dibandingkan rata-rata industri perbankan sehingga dapat dikatakan BRI masuk ke dalam salah satu market leader dalam industri perbankan. Dengan posisi yang kuat seperti ini maka BRI akan mudah mempengaruhi kebijakan bank lain dalam kaitanya dengan tingkat kredit. Selain itu, BRI merupakan pemain besar bahkan bisa dikatakan sebagai market leader dalam
kredit UMKM yang bahkan dijadikan salah satu fokus bisnis pembiayaan mereka dalam mendorong perekonomian. Dimana posisi tersebut diperkuat dengan adanya penguasaan saham perusahaan Pegadaian dan PMN. Ketika kredit yang disalurkan semakin besar maka akan semakin besar pula keuntungan perusahaan. Dimana hal ini terjadi dengan beberapa indikator keuntungan seperti laba bersih, pendapatan operasional, dan lain
sebagainya lebih besar daripada keuntungan yang dihasilkan oleh industri perbankan. Sedangkan dalam pembiayaan yang sifatnya ramah lingkungan atau green financing maka BRI sebagai salah satu bank dengan posisi yang tinggi dengan pembiayaan sebesar 70 Triliun pada green project 2021.

Analisa Kinerja Keuangan Perusahaan

Kinerja BRI menggunakan pendekatan Risk-Based Bank Rating

  1. Profil Risiko Pembiayaan

Berdasrkan peraturan tersebut dapat diketahui bahwa nilai NPL Gross BBRI Q4
2022 sebesar 2.82% tergolong sehat sehingga tidak memiliki eksposur risiko gagal bayar yang merusak atas kredit yang diberikan kepada nasabah. NPL Gross yang kecil tersebut menunjukan bahwa manajemen BRI mampu mengelola kredit nya sehingga hanya sedikit yang tergolong berisiko gagal.

2. Profil Risiko Likuiditas

Likuiditas yang digunakan dalam riset ini menggunakan rasio Loan to Deposit
Ratio yang menunjukan tingkat likuiditas bank atas simpanan pihak ketiga. Berikut
penilaian LDR suatu bank dikatakan sehat atau tidaknya

Berdasarkan tabel di atas, bahwa nilai LDR Bank BRI sebesar 79.17% termasuk
ke dalam kategori baik atau sehat. Sehingga dapat dikatakan bahwa eksposur risiko likuiditas pada saham BRI tidak terlalu besar karena bank mampu membayar simpanan nasabah jika terjadi penarikan besar secara tiba-tiba karena bank memberikan loan tidak lebih dari 100%.

3. Good Corporate Governance

Penilaian kesehatan bank berdasarkan faktor Good Corporate Governance dapat dilakukan dengan terciptanya pengelolaan yang efektif dan efisien, baik dari segi biaya yang dikeluarkan maupun pendapatan yang diperoleh sehingga sustainable terhadap kelangsungan usahanya. Sehingga indikator yang digunakan adalah rasio BOPO (Beban Operasional Terhadap Pendapatan Operasional). Rasio keuangan ini mencerminkan sejauh mana pihak manajemen melakukan pengelolaan bank secara efektif dan efisien dengan meminimalkan beban pengeluaran sehingga meningkatkan pendapatan operasional yang didapat.

NomorRasioPredikat
1BOPO ≤ 94%Sangat Sehat
294% BOPO ≤ 95%Sehat
395% BOPO ≤ 96%Cukup Sehat
496% < BOPO ≤ 97%Kurang Sehat
BOPO > 97%Tidak Sehat

Berdasrkan nilai BOPO sebesar 64.20% maka BOPO saham BRI bergerak pada
kategori yang sangat sehat dimana hal ini menunjukan tingkat efisensi perusahaan sangat tinggi untuk memaksimalkan keuntungan. BOPO yang rendah menunjukan biaya yang dikeluarkan oleh bank BRI untuk melakukan bisnis lebih kecil dari tingkat pendapatan yang diperoleh.

4. Return On Asset

Berdasrkan ROA perusahaan BRI seebsar 3.76% maka dapat diartkan bahwa
Bank BRI mampu memperoleh 3% atas penggunaan menggunakan aset aset yang dimiliki bank. Sedangkan dalam analisis kesehatannya, eksposur risiko
profitabilitas bank BRI berada di atas 1.5% yang artinya low risk dan sangat sehat dan mampu dalam penggunaan aset perusahaan sehingga menciptakan ROA 3%. Berdasarkan hasil rasio tersebut bahwa saham Bank BRI memiliki pembiayaan yang bagus serta likuiditas yang lancar sehingga dapat menangani apabila ada penarikan dana dalam waktu dekat. Sedangkan rasio BOPO menunjukan efisiensi BRI yang tinggi untuk mengelola keuntungan dengan dibuktikan angka ROA berada di atas 3%. Meskipun permodalan BRI dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi persyaratan 8%. Setelah itu, maka akan dilakukan pemeringkatan risiko untuk diketahui keamanan keuangan dari bank BRI sebagai berikut.

Berdasarkan hal tersebut maka saham bank BRI dapat dikatakan memiliki fundamental yang bagus dimana hal ini dapat dilihat dari nilai rasio yang sangat bagus pada setiap RGEC-nya serta eksposur risiko yang sangat aman atau very low risk. Sehingga bank BRI dapat bertahan ketika ada eksposur risiko lainya yang mengganggu keuangan bank BRI. Hal ini dinilai sebagai saham yang bagus untuk jangka panjang.
Hal tersebut dikuatkan oleh valuasi saham BRI menggunakan Price to Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV). Dimana nilai PER saham BBRI berada di angka 19 dimana nilai ini sangat bagus karena dinilai lebih rendah ketimbang bank lainya seperti BCA maupun Bank Mandiri yang berada di rentang 94 dan 46. Adapun valuasi
menggunakan PBV menunjukan nilai saham BRI bervaluasi 2.4 kali dari harga pasar berdasarkan kekayaan yang dimilikinya atau sebesar nilai 2.4. Dimana valuasi ini lebih rendah dibandingkan valuasi BCA yang mencapai 4 kali. Sedangkan dengan Mandiri hampir sama yakni berada di rentang angka 2 kali meskipun Mandiri lebih sedikit. Akan
tetapi, secara keseluruhan harga saham BBRI memiiki valuasi yang sangat baik
dibandingkan saham lainya dan pantas untuk dijadikan sebagai salah satu pilihan investasi.

Analisis Teknikal

Analisis Teknikal Menggunakan Double Cross Strategy terhadap Saham PT. Bank
Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI:IDX)\

Analisis teknikal menggunakan double crossing strategy pada saham BBRI dilakukan dengan menggunakan crossing line pada dua indikator, yaitu Stochastics dan MACD. Penggunaan dua indikator ini harus didahului dengan analisis trend yang sedang berjalan sehingga penggunaan indikator tersebut akan semakin akurat. Untuk melakukan analisis menggunakan strategi ini maka langkah awal yang harus dilakukan adalah dengan melihat historis harga saham BBRI untuk kemudian ditentukan arah trend nya. Dimana saham akan dikatakan uptrend apabila terdapat tanda higher high dan higher low secara berurutan dan saham akan dikatakan bergerak downtrend apabila sebaliknya.
Berdasarkan hasil analisis pada gambar di atas, bahwa arah pergerakan harga saham BBRI sedang mengalami kenaikan atau uptrend dengan adanya higher high dan higher low pada beberapa titik harga. Sedangkan perubahan harga secara presentase dari titik higher low ke higher high rata-rata berada pada rentang angka 9%. Sehingga dapat dikatakan bahwa setiap kenaikan pada saat uptrend berlangsung maka saham berpotensi terus mengalami kenaikan sampai meraih keuntungan atau perubahan 9% terhadap titik higher low masing-masingnya.

Setelah dilakukan analisis trend perubahan harganya maka langkah selanjutnya adalah menganalisis crossing line menggunakan indikator Stochastics dan MACD dimana hal ini digunakan untuk melihat momentum arah perubahan harga saham pada BBRI. Untuk langkah awal maka dilakukan analisa menggunakan Stochastics terlebih dahulu pada saham dibandingkan dengan indikator MACD. Dimana hal ini dilakukan karena indikator Stochastic menunjukan perubahan yang lebih awal dan cepat dibandingkan indikator lainya. Sehingga pada saham BBRI yang sedang mengalami uptrend tersebut maka ketika Stochastics menyilang garis ke atas dan diagram berubah menjadi hijau maka hal ini menunjukan harga saham berpotensi mengalami kenaikan dimana hal ini terjadi pada saham BBRI yang menunjukan indikator Stochastic crossing line ke atas dan diagram menjadi hijau sehingga saham BBRI menunjukan kenaikan harga berdasrkan crossing line yang terjadi pada Stochastics. Hal tersebut dikuatkan dengan analisis menggunakan indikator MACD yang menunjukan crossing line ke atas memotong garis yang lebih besar sehingga menghasilkan penguatan terhadap kenaikan harga saham BBRI atas penguatan yang dihasilkan indikator Stochastics.

Berdasrkan hasil double crossing strategy tersebut maka hasil analisis saham BBRI secara jangka pendek untuk tetap mempertahankan kepemilikan saham BBRI karena trend masih menguat maupun melakukan akumulasi beli secara terbatas pada saham BBRI sampai harga mengalami perubahan menyentuh ke range perubahan sebesar 9% dari titik rendah tertinggi sebelumnya. Hal ini dilakukan secara terbatas dikarenakan perubahan harga sudah mencapai sebesar 7,1% dan berada di atas batas Stochastics 50 pada trend kenaikan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *