Moneter

Memahami Apa Itu Moneter

(Samantha Menzies / Yahoo Finance)

Perkembangan Uang dan Moneter

Sebelum memahami moneter maka langkah awal yang dilakukan adalah memahami tentang uang. Uang merupakan alat yang digunakan sebagai sistem pembayaran atau alat tukar yang memodernisasi dari sistem pertukaran barter. Uang fiat merupakan bentuk uang yang dikeluarkan oleh pemerintah suatu negara secara resmi sebagai bentuk alat tukar dan pembayaran dalam wilayah otoritas moneter suatu negara. Perkembangan uang semakin maju dari tahun ke tahun dimana uang dapat diartikan sebagai kredit. Hal ini dikarenakan setiap uang yang beredar merupakan hasil pinjaman yang dikeluarkan oleh bank. Lebih jauh lagi bahwa secara modern, uang terbagi menjadi dua yaitu inside money dan outside money.

Inside money menjelaskan bahwa uang modern merupakan sejumlah akun yang tercatat di bank komersiil yang akan digunakan sebagai pendanaan dan pembayaran kehidupan sehari-hari. Jumlah uang yang beredar akan dikelola oleh bank komersiil melalui lalu lintas kredit kepada masyarakat. Selain itu, inside money juga menjelaskan uang modern yang tercatat dalam bank merupakan sumber uang yang berasal dari deposito masyarakat. Sehingga lalu lintas pembayaran akan dapat dilakukan dengan melibatkan uang yang tercatat dalam bank komerisiil, seperti mobile banking, ATM, dll.

Sedangkan outside money menjelaskan bahwa uang modern merupakan jumlah uang yang dibuat dan disebarluaskan secara sempit oleh pemerintah dalam bentuk kertas, koin, dan cadangan. Bank Indonesia sebagai otoritas moneter melakukan fungsi tersebut dengan menyebarkan uang melalui bank komersiil. Sehingga dapat dikatakan bahwa moneter merupakan aktivitas yang dilakukan oleh suatu lembaga untuk melakukan peredaran uang yang mempengaruhi harga barang dan jasa. cadangan yang terdapat di Bank Indonesia digunakan untuk memenuhi giro wajib perbankan maupun sistem pembayaran antar bank. Contohnya, Ani mentransfer 100 juta ke Budi dari Bank BBC ke Bank Sunda maka yang terjadi yaitu Bank BBC melakukan aktivitas pemindahan uang yang dimilikinya di Bank Indonesia ke akun yang dimiliki oleh Bank Sunda.

Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter, baik atau buruk, telah berada di garis depan para pembuat kebijakan siklis selama dua dekade terakhir, terutama selama Resesi Hebat dan krisis utang negara (Altavilla et al., 2022). Kebijakan Moneter merupakan aktivitas yang dilakukan oleh bank sentral dalam rangka menetapkan suku bunga jangka pendek dengan tujuan sebagai berikut (Roche, 2012).

  1. Membantu tingkat likuiditas sistem perbankan dalam memenuhi tugas bank sentral sebagai “lender of last resort
  2. Menjaga kesehatan sistem pembayaran
  3. Mempengaruhi harga aset dan pasar keuangan secara langsung maupun tidak langsung
  4. Mempengaruhi supply/demand dalam penciptaan kredit
  5. Mempengaruhi dan menjaga nilai tukar

Otoritas yang berwenang untuk melakukan hal-hal moneter di atas dalam wilayah Indonesia adalah Bank Indonesia. Selama melaksanakan tugas moneternya, Bank Indonesia berkoordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menyeleraskan kebijakan keuangan domestik antara moneter dengan fiskal. Sehingga kesinambungan ini akan menjaga sistem keuangan tetap berjalan secara harmonis dengan tidak menyebabkan kesenjangan antar kebijakan.

Moneter Bank Indonesia

Sedangkan tujuan resmi moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia sebagaimana tercantum dalam pada pasal 7 UU No.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan adalah sebagai berikut (https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/moneter/).

  1. Mencapai stabilitas nilai Rupiah
  2. Memelihara stabilitas sistem pembayaran
  3. Menjaga stabilitas sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dimana yang dimaksud dengan “stabilitas nilai Rupiah” adalah kestabilan harga barang dan jasa serta nilai tukar Rupiah. Kestabilan harga barang dan jasa secara umum diukur dari inflasi yang rendah dan stabil. Sementara itu, kestabilan nilai tukar Rupiah diukur dari kestabilan nilai rupiah terhadap mata uang negara lain. Kestabilan nilai Rupiah dalam artian inflasi yang rendah, dan stabil, serta kestabilan nilai tukar Rupiah sangat penting bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Kestabilan nilai tukar Rupiah diperlukan dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya untuk mendukung tercapainya inflasi yang rendah dan stabil.

Trasmisi Kebijakan Moneter Bank Indonesia

Sebagai alat manajemen ekonomi makro yang penting untuk mempengaruhi cara kerja ekonomi, sebagian besar ekonom setuju bahwa tindakan kebijakan moneter dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap output riil setidaknya dalam jangka pendek dan efek output riil semacam itu dapat bertahan selama lebih dari dua tahun (Wen et al., 2023). Trasmisi kebijakan moneter akan dilakukan secara pengetatan ataupun kelonggaran dimana hal ini biasa disebut sebagai ekspansi moneter maupun pengetatan moneter. Ekspansi moneter merupakan aktivitas BI untuk meningkatkan jumlah uang beredar dalam rangka menaikan permintaan kredit (menurunkan harga kredit) dan harga aset selama kegiatan moneter berlangsung. Dengan mengangkat harga aset dan menurunkan harga kredit, kebijakan moneter meningkatkan kekayaan bersih dan kesehatan keuangan peminjam (saluran neraca), serta kemampuan perantara keuangan untuk meminjam dan memasok kredit (saluran pinjaman bank), mendorong pengambilan risiko (melalui pencapaian hasil) dan peningkatan leverage (Ajello et al., 2022). Sedangkan kebijakan pengetatan moneter merupakan langkah yang dilakukan oleh BI untuk mengurangi uang yang beredar dengan tujuan meredakan pertumbuhan ekonomi yang berlebihan maupun menurunkan tingkat inflasi. Adapun transimisi moneter yang dilakukan oleh BI melalui dua cara yaitu operasi moneter dan suku bunga acuan.

1, Operasi moneter

Operasi moneter merupakan aktivitas moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia dengan cara Operasi Pasar Terbuka (OPT) dan Standing Facilities untuk mempengaruhi likuiditas pasar uang dan pasar valas Indonesia. Operasi moneter di Indonesia dibedakan menjadi dua yaitu operasi moneter dan operasi moneter syariah. Dimana OMS ini bertujuan menciptakan stabilitas harga melalui keterlibatan dari partisipasi perbankan syariah.

2. Suku Bunga Acuan

Suku bunga merupakan salah satu alat moneter yang dimiliki oleh Bank Indonesai untuk mempengaruhi tingkat bunga perbankan komersiil sehingga berdampak terhadap kenaikan/ penurunan kredit yang dilakukan oleh bank komersiil. Suku bunga dicerminkan dengan BI 7 Days Reserve Repo Rate yang menjadi referensi dalam mempengaruhi suku bunga lainya.

Keterkaitan Kebijakan Moneter Global

Di dunia yang semakin modern dan saling terhubung maka sistem keuangan global mudah saling terpengaruhi oleh negara maju, seperti halnya Indonesia. Hal ini juga berlaku dalam kebijakan moneter dimana regulator dalam mengelola suku bunga juga mempertimbangkan faktor luar yang mempengaruhi otoritasnya. Misalnya, European Central Bank dan Bank of England akan senantiasa memantau kebijakan moneter the Fed yang merupakan bank sentral terkuat di dunia. Hal ini menunjukan perubahan yang mengejutkan di negara lain akan mempengaruhi negara pihak ketiga. Terlebih lagi sistem perbankan dalam menciptakan uang modern saling terhubung sehingga meningkatkan perpindahan uang dengan cepat yang dapat memicu likuiditas pasar.

Ketika the Federal Reserve memperketat moneter maka permintaan domestik berkontraksi, seperti halnya harga. Transmisi keuangan domestik terlihat melalui peningkatan spread korporasi, kontraksi pinjaman, dan penurunan tajam harga aset, seperti perumahan dan pasar saham. Namun, yang terpenting variasi yang signifikan dalam Siklus Keuangan Global, yaitu guncangan yang menyebabkan fluktuasi dalam aktivitas keuangan dalam skala global. Harga aset berisiko, dirangkum oleh faktor global tunggal, berkontraksi sangat signifikan. Hal ini disertai dengan deleveraging bank global baik di AS dan Eropa, dan lonjakan penghindaran risiko agregat di pasar aset global. Pasokan kontrak kredit global, dan ada pengurangan penting arus kredit internasional yang sangat jelas untuk sektor perbankan. Selisih obligasi korporasi internasional juga meningkat sebagai dampaknya, dan secara signifikan demikian. Hasil ini konsisten dengan saluran transmisi yang kuat dari kebijakan moneter AS lintas batas, melalui kondisi keuangan. Kontraksi kredit domestik dan likuiditas internasional yang mengikuti pengetatan kebijakan moneter AS dikonfirmasi juga untuk subset negara yang memiliki rezim nilai tukar mengambang (Miranda-Agrippino and Rey, 2020).

Referensi

  • Ajello, Andrea, Nina Boyarchenko, François Gourio, and Andrea Tambalotti. 2022. “Financial Stability Considerations for Monetary Policy: Theoretical Mechanisms.” Finance and Economics Discussion Series 2022(005):1–29. doi: 10.17016/feds.2022.005.
  • Altavilla, Carlo, Lorenzo Burlon, Mariassunta Giannetti, and Sarah Holton. 2022. “Is There a Zero Lower Bound? The Effects of Negative Policy Rates on Banks and Firms.” Journal of Financial Economics 144(3):885–907. doi: 10.1016/j.jfineco.2021.06.032.
  • Miranda-Agrippino, Silvia, and Hélène Rey. 2020. “U.S. Monetary Policy and the Global Financial Cycle.” Review of Economic Studies 87(6):2754–76. doi: 10.1093/restud/rdaa019.
  • Roche, Cullen O. 2012. “Understanding the Modern Monetary System.” SSRN Electronic Journal 1–45. doi: 10.2139/ssrn.1905625.
  • Wen, Jun, Xinxin Zhao, Qiang Fu, and Chun Ping Chang. 2023. “The Impact of Financial Risk on Green Innovation: Global Evidence.” Pacific Basin Finance Journal 77(6):1933–53. doi: 10.1016/j.pacfin.2022.101896.